05 April 2009

Ular, Adam dan Hawa

Ular memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia. Paling tidak dari sudut sejarah menurut Alkitab Perjanjian Lama. Konon, Adam dan Hawa yang hidup bahagia di taman Eden, pada suatu hari digoda oleh seekor ular untuk makan buah terlarang. Celakanya, Alkitab mencatat, Adam dan Hawa tergoda. Jadilah cerita yang kompleks ngalor ngidul ke sana kemari, sampai-sampai Yesus perlu disalibkan untuk menebus kesalahan menu itu.

Cerita sederhana yang mirip dongeng antah-berantah itu, ditafsirkan ribuan, mungkin jutaan, kali oleh umat manusia dengan berbagai cara. Berbagai sudut pandang tafsir sudah diterapkan ke cerita ini. Peran Adam, peran Hawa, peran ular, semua sudah dikupas habis-habisan. Tafsiran yang timbul akan mewakili zeit geist masing-masing zamannya. Di zaman rasul Paulus yang kesohor itu misalnya, masih hangat-hangatnya peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus yang menghebohkan membuat para murid merasa perlu membuat metafora Yesus sebagai Adam. Cuma kali ini Yesus tidak salah pilih menu. Menu nikmat menghindari jalan salib ditolakNya. Jadilah cerita penebusan di Kalvari yang mengharu-biru selama ribuan tahun.

Lain zaman lain tafsiran. Di suatu masa ada tafsiran paternalistik maskulinist fanatik ekstrim yang keterlaluan, yang menuding ini semua gara-gara si Hawa yang lemah iman. Lagi-lagi terjadi generalisasi keji kejam, lalu muncul gerakan moral menyudutkan kaum perempuan. Jadilah kaum perempuan sedunia, yang sama bentuk dan jenis kelaminnya dengan Hawa istri Adam itu, dituding sebagai pihak yang bersalah. Mereka pamali menjadi pemimpin, apalagi memimpin sembahyangan. Cukup jadi nomor dua saja, persis di bawah laki-laki. Kadang-kadang, keterlaluan, mereka diperlakukan sampai lebih rendah dari binatang, dijadikan pampasan perang, jadi persembahan ke raja-raja hidung belang, kalau kawin tidak usah ditanya kesediaannya langsung dikawini saja. Tudingan bahwa si Hawa (dan otomatis semua kaum perempuan) lemah iman, juga merembet-rembet sampai ke jenis mode pakaian yang harus dikenakan. Perempuan diminta dengan hormat lagi sangat untuk tidak memakai pakaian yang bisa menggoda. Maklum, ada tafsiran ekstrim rada porno yang memandang buah terlarang yang dilarang Tuhan itu sebenarnya adalah hubungan sex. Jadi demi mencegah supaya perempuan jangan sembarangan saja mengumbar sex dimana-mana, pakaiannya harus dibuat sedemikian tidak fleksibelnya sehingga mengurangi niat dan kesempatan. Ingat juga bahwa praktek khitan perempuan dengan memotong klitoris bertujuan juga untuk membabat nafsu sex perempuan. Padahal kalau dipikir-pikir, siapa sih yang lebih besar nafsunya, laki atau perempuan? Kayaknya sama saja deh, kita semua manusia kan?

Lain lagi doktrin tentang benih si ular. Doktrin yang muncul sekitar abad ke-9 di ini lebih nyeleneh lagi otak pornonya. Tega-teganya mereka mengatakan bahwa yang terjadi di taman Eden itu adalah hubungan sex antara Hawa dengan si ular yang mengakibatkan Hawa sampai hamil. Nah, karena anak pertama Hawa adalah si Kain (yang digambarkan temperamental), ditudinglah bahwa Kain adalah anak luar nikah hasil hubungan gelap si Hawa dan si ular. Cocoklah ceritanya kenapa si Kain sampai hati membunuh adik sendiri, begitulah setidaknya yang diyakini para rabbi Kabbala, sebuah sekte Yudaisme.

Semua ini tidak akan terjadi tanpa peranan ular. Tanpa ular, tidak ada peran antagonis. Didalam kisah tanpa akhir itu, posisi Adam dan Hawa sebenarnya dalam keadaan yang sangat bisa diperdebatkan. Itu sebabnya, karena penulis ceritanya tidak memberi petunjuk pasti tentang apa yang dia ingin ceritakan sebenarnya, cerita satu pasal ini jadi terbuka sekali terhadap semua tafsir. Kalau posisi Adam dan Hawa ada di daerah abu-abu, lain lagi peran ular. Jelas dalam adegan itu, dialah biang keladinya. Tokoh antagonis yang jelas sekali peranannya, sampai-sampai orang tidak begitu menggubrisnya lagi. Karena tampak begitu nyata kasat mata terbuka sebagai tokoh jahat, tafsir terhadap ular begitu saja disepakati bersama sebagai, tidak lain dan tidak bukan, si Iblis. Padahal dalam kisah Kitab Kejadian 3 tak sekalipun disinggung-singgung ular sebagai Iblis. Tafsir bahwa ular adalah si Iblis mungkin baru muncul jauh belakangan, bahkan jangan-jangan nanti pada zaman Yesus. Pada kisah aslinya hanya bercerita tentang ular yang bisa bicara. Aneh bin ajaib, believe it or not, semuanya telah tercatat sebagai sejarah suci.
Custom Search