05 April 2009

Pidato Gaya Pejabat Indonesia

Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Anu

Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Anu dan Ibu
Yang terhormat Bapak Kepala Dinas Urusan Ini dan Ibu
Yang terhormat Bapak Kepala Dinas Urusan Itu dan Ibu
Yang terhormat Bapak Kepala Balai Anu dan Ibu
Yang terhormat Ibu Kepala Balai Ini dan Bapak
Yang terhormat Para Bupati se-Provinsi Anu dan Ibu
Yang terhormat Para Camat
Yang saya hormati para undangan dan hadirin sekalian

Apakah anda cukup familiar dengan kata-kata dengan pola seperti di atas?
Dan apakah anda sudah terbiasa untuk bersabar menunggu sampai si pembicara selesai dengan ritual penghormatan suci ini?
Jika ya, berarti anda warga negara Indonesia yang sudah cukup senior.

Jika anda salah seorang di antara para hadirin, apakah yang anda lakukan ketika si pembicara sedang melalui ritual inisialisasi ini?
Berikut ini adalah beberapa hal yang biasanya dilakukan orang:
(Maaf, daftarnya cukup panjang, kenyataannya memang biasanya hanya sedikit yang benar-benar menyimak bagian "pendahuluan" ini):
* Diam sambil menatap si pembicara dengan sabar
* Berbisik-bisik kepada teman di sebelah
* Menguap
* Membaca brosur acara
* Tidur
* Ngobrol (sampai ngakak)
* Menelpon
* Mengetik SMS
* Main game di handphone
* Browsing internet di handphone
* Menunggu nama dan jabatannya disebutkan di pembicara, ketika namanya disebutkan langsung manggut-manggut dengan muka serius
* Memperhatikan dengan teliti urutan penyebutan nama dan jabatan, kalau ada kesalahan urutan siap-siap memprotes sebagai kesalahan protokol
* Tidak memperhatikan pembicara tetapi melihat-lihat hal lain di sekitar tempat acara
* Pergi ke toilet
* Memperbaiki kosmetik
* Mengipas-ngipas sambil mengeluh kegerahan dan acaranya lama banget
* Memotong kuku
* Makan kue / minum
* Bikin lipatan pesawat kertas dari brosur acara
* Menulis sesuatu di notes yang dibawa
* Bikin sketsa / kartun
* Merekam pidato
* Mengetik di laptop
* Mengutak-atik kamera digital
* Memotret suasana acara
* Melamun

Berapa banyak orang yang memperhatikan "pendahuluan rutin" itu? Biasanya sedikit. Kalaupun ada, biasanya yang memperhatikan hanya pejabat yang mengharapkan namanya disebutkan. Konyolnya, urutan penyebutan tersebut jangan sampai salah, sebab mungkin sekali bakal ada yang tersinggung. Anda bisa dipandang menurunkan gengsi Bupati kalau Bupati, misalnya, disebutkan setelah Camat.

Apa fungsi pendahuluan rutin yang sering bertele-tele ini?
Mungkin salah satu atau beberapa hal di bawah ini:
* Wujud salam budaya. Konon budaya kita adalah budaya saling hormat menghormati. Tapi benarkah harus berpanjang-bosan seperti itu?
* Perwujudan suasana feodal, hirarki atasan bawahan harus runut benar.
* Untuk menjilat atasan.
* Untuk memperlihatkan kepintaran berpidato (benarkah?)
* Sebagai pengisi waktu atau menunda-nunda waktu sambil pikir-pikir mau bicara apa.
* Untuk membuat hadirin mengantuk, sehingga tidak memperhatikan lagi pidato yang memang tidak ada isinya.

Pesan: Mari kita hentikan rutin yang paling membosankan dan konyol ini. Ganti saja dengan kata-kata paling Indonesia: "Saudara-saudara sekalian yang saya hormati." Menurut pendapat saya, kata-kata itu sudah mencakup semua penghormatan dan penghargaan yang ingin kita berikan kepada siapapun yang hadir saat itu.
Custom Search