Showing posts with label Mitos. Show all posts
Showing posts with label Mitos. Show all posts

10 April 2009

Ular Tangga


Tahukah anda asal usul permainan ular tangga?
Permainan ular tangga barangkali merupakan salah satu mainan rekreasi ringan yang cukup populer di Indonesia di samping mainan papan lain seperti Monopoli, Ludo, Dam dan Halma. Pada permainan ular tangga, medan permainan adalah sebuah papan atau karton bergambar kotak-kotak biasanya berukuran 10x10 kotak. Tiap kotak diberi nomor urut mulai dari nomor 1 dari sudut kiri bawah sampai nomor 10 di sudut kanan bawah, lalu dari kanan ke kiri mulai nomor 11 baris kedua sampai nomor 20 dan seterusnya sampai nomor 100 di sudut kiri atas. Kotak-kotak tertentu berisi gambar yang mengandung pesan atau perbuatan. Ada pesan atau perbuatan baik, ada yang buruk. Pesan atau perbuatan baik biasanya diganjar dengan kenaikan ke kotak yang lebih tinggi lewat tangga, sedangkan pesan atau perbuatan buruk dihukum dengan penurunan ke kotak lebih rendah melewati ular. Karena itu dinamakan Ular Tangga. Giliran bermain dan jumlah langkah yang akan dimainkan ditentukan menggunakan lemparan dadu. Tujuan permainan adalah bagaimana mencapai kotak nomor 100 secepat mungkin.

Permainan sederhana namun mengasyikkan ini tersebar di seluruh dunia dan umumnya memiliki ciri yang sama dengan nama yang umumnya merupakan terjemahan dari kata ular dan tangga dalam bahasa masing-masing. Dalam bahasa Inggris misalnya dinamakan Snakes-and-Ladders.

Ular Tangga aslinya konon berasal dari India. Website pemerintah India mengklaim bahwa permainan ular tangga diciptakan oleh Gyandev, orang suci India di abad ke-13. Konon nama asli mainan ini adalah Mokshpat atau Moksha-Patamu, dimana tangga melambangkan perbuatan baik dan ular melambangkan pelanggaran. Tujuannya memberi semacam pelajaran budi pekerti bahwa perbuatan baik akan mendapat pahala sedangkan perbuatan buruk mendapat hukuman.

Nomor-nomor kotak pada permainan aslinya sudah memiliki nilai tetap, kotak nomor 12 misalnya adalah kotak bernama Iman, kotak nomor 73 adalah pembunuhan, kotak nomor 76 adalah pengetahuan, dan seterusnya. Dalam prakteknya, masing-masing pembuat permainan ini memodifikasi sesuka hati mereka, bahkan memberikan bermacam-macam variasi tema pada permainan ini. Permainan ular tangga di Indonesia, misalnya, memiliki macam-macam variasi. Kemungkinan variasi yang bisa dibikin memang hanya bisa dibatasi oleh tingkat imajinasi saja.

Yang tetap menjadi ciri khas yang tak pernah berubah adalah kehadiran ular dan tangga. Ular selalu melambangkan sesuatu yang negatif, kesialan, hukuman, pelanggaran, sifat buruk, kemurungan, warna yang suram, kegelapan ataupun neraka, sedangkan tangga selalu melambangkan sesuatu yang positif, keberuntungan, pahala, ketaatan, sifat baik, kegembiraan, warna yang cerah, kemurnian, dan sorga.

Yang jadi paradoks dari perlambang-perlambang tersebut adalah bahwa ular dalam beberapa ritual rakyat India, terutama di kalangan umat Hindu tertentu, merupakan hewan yang dipuja sebagai sosok dewa. Pada hari kelima bulan Shravan dalam kalender Hindu, yang disebut Nag Panchami, orang-orang melakukan ritual pemujaan terhadap ular atau nag. Diyakini bahwa dewa ular yang dikaitkan dengan Dewa Subrmanya akan terhibur dengan pemujaan ini sehingga akan menghapus penderitaan mereka dan membawa kebahagiaan. Di Bengal dan sebagian Assam dan Orissa, orang mengharapkan mendapat berkahan dari Mansa, sang ratu ular.

Pemujaan dan ketakutan, perasaan positif dan negatif, penderitaan dan pengharapan akan berkah, merupakan dua sisi mata uang yang hadir dalam sikap mental bawah sadar manusia terhadap ular. Dua sisi saling paradoks ini hadir melalui tempaan pengalaman manusia dalam pergaulan mereka secara langsung dengan ular. Manusia menyaksikan keganasan bisa ular yang menghantarkan jiwa manusia ke alam maut dalam waktu singkat. Manusia juga menyaksikan dengan perasaan gentar bagaimana sosok tubuh manusia bisa ditelan seutuhnya oleh seekor ular. Manusia mendapati bahwa perlakuan baik terhadap ular merupakan jalan damai yang terbaik. Pemujaan terhadap ular merupakan pelembagaan ketakutan sekaligus upaya mencari selamat dari ketakutan itu. Sifat ular sendiri, yang tidak suka menyerang jika tidak diserang, sangat klop dengan pendekatan religius manusia terhadapnya. Dengan demikian agama telah menjadi jalan keluar yang alamiah bagi bersatunya bangsa manusia yang berdarah panas dan bangsa ular yang berdarah dingin.

Ayo bermain ular tangga dan lupakan sejenak kengerian anda terhadap ular.

09 April 2009

Rambut ular Medusa - kutukan, fashion, gejala klinis

Konon, Medusa mulanya adalah seorang gadis cantik jelita, salah satu dari tiga orang putri Gorgon, seorang dewi Yunani yang menakutkan. Kedua saudari Medusa konon ditakdirkan hidup abadi, Medusa sebaliknya bersifat fana.

Kecantikan Medusa yang luar biasa membuat hati Poseidon, sang dewa laut yang playboy, mabuk kepayang. Dasar dewa sudah kebelet nafsu, Poseidon merayu Medusa di kuil Athena, kemudian mereka bercinta di situ. Athena yang memergoki mereka marah besar. Kuil suci kok dijadikan tempat indehoy. Seperti kebiasaan dewa-dewi kalau lagi marah, Athena mengutuk Medusa habis-habisan (jadi kalau anda marah sampai mengeluarkan sumpah-serapah, jangan-jangan anda seorang dewi).

Medusa yang cantik jelita disumpahin jadi jelek. Wajahnya berubah menakutkan, rambut hitam kemilau bak putri shampoo dikutuk jadi ular semua. Jadilah Medusa sosok legendaris dengan mode rambut yang keren abis, ular betulan, gila bener. Tapi tidak cuma sampai disitu, semua orang yang berani main mata dengan Medusa bakal ketemu batunya, maksudnya langsung jadi batu betulan. Hidup Medusa benar-benar hancur gara-gara asmara semenit (kisah tragis seperti ini kayaknya tetap sering terjadi di zaman sekarang, kita memang tidak pernah belajar dari Medusa. Amit amit). Tidak ada orang yang berani ketemu beliau lantaran takut jadi batu. Medusa jadi malapetaka, di manapun dia berada (mirip-mirip biang gosip zaman sekarang).

Medusa akhirnya dibunuh oleh Perseus, yang belakangan kawin dengan Andromeda. Kepala Medusa dipenggal oleh Perseus ketika Medusa sedang tidur. Tentu saja tindakan sadis mutilasi gaya Yunani dilakukan oleh Perseus sambil matanya merem, karena kalau tidak ia sendiri bakal keburu jadi batu.

Kepala berambut ular Medusa diserahkan Perseus kepada Athena, lalu dijadikan hiasan dada. Sejak itu nilai jual kepala Medusa sebagai aksesoris dalam fashion tetap tinggi dari masa ke masa. Dewasa ini kepala Medusa dijadikan icon produk Versace. Designer lain seperti Roberto Cavalli dan Marchesa Casati juga meminjam kepala Medusa sebagai sumber inspirasi design dan fashion.

Kepala Medusa juga memberikan inspirasi di kalangan medis. Pada pasien dengan penyakit sirosis hati, terjadi pembendungan pembuluh darah yang menuju ke hati. Bendungan tersebut akan nampak seperti ular-ularan yang memencar dari pusar ke arah luar. Karena gambarannya mirip kepala Medusa maka gambaran klinis ini disebut caput medusae. Silahkan periksa pusar anda masing-masing.

05 April 2009

Ular, Adam dan Hawa

Ular memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia. Paling tidak dari sudut sejarah menurut Alkitab Perjanjian Lama. Konon, Adam dan Hawa yang hidup bahagia di taman Eden, pada suatu hari digoda oleh seekor ular untuk makan buah terlarang. Celakanya, Alkitab mencatat, Adam dan Hawa tergoda. Jadilah cerita yang kompleks ngalor ngidul ke sana kemari, sampai-sampai Yesus perlu disalibkan untuk menebus kesalahan menu itu.

Cerita sederhana yang mirip dongeng antah-berantah itu, ditafsirkan ribuan, mungkin jutaan, kali oleh umat manusia dengan berbagai cara. Berbagai sudut pandang tafsir sudah diterapkan ke cerita ini. Peran Adam, peran Hawa, peran ular, semua sudah dikupas habis-habisan. Tafsiran yang timbul akan mewakili zeit geist masing-masing zamannya. Di zaman rasul Paulus yang kesohor itu misalnya, masih hangat-hangatnya peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus yang menghebohkan membuat para murid merasa perlu membuat metafora Yesus sebagai Adam. Cuma kali ini Yesus tidak salah pilih menu. Menu nikmat menghindari jalan salib ditolakNya. Jadilah cerita penebusan di Kalvari yang mengharu-biru selama ribuan tahun.

Lain zaman lain tafsiran. Di suatu masa ada tafsiran paternalistik maskulinist fanatik ekstrim yang keterlaluan, yang menuding ini semua gara-gara si Hawa yang lemah iman. Lagi-lagi terjadi generalisasi keji kejam, lalu muncul gerakan moral menyudutkan kaum perempuan. Jadilah kaum perempuan sedunia, yang sama bentuk dan jenis kelaminnya dengan Hawa istri Adam itu, dituding sebagai pihak yang bersalah. Mereka pamali menjadi pemimpin, apalagi memimpin sembahyangan. Cukup jadi nomor dua saja, persis di bawah laki-laki. Kadang-kadang, keterlaluan, mereka diperlakukan sampai lebih rendah dari binatang, dijadikan pampasan perang, jadi persembahan ke raja-raja hidung belang, kalau kawin tidak usah ditanya kesediaannya langsung dikawini saja. Tudingan bahwa si Hawa (dan otomatis semua kaum perempuan) lemah iman, juga merembet-rembet sampai ke jenis mode pakaian yang harus dikenakan. Perempuan diminta dengan hormat lagi sangat untuk tidak memakai pakaian yang bisa menggoda. Maklum, ada tafsiran ekstrim rada porno yang memandang buah terlarang yang dilarang Tuhan itu sebenarnya adalah hubungan sex. Jadi demi mencegah supaya perempuan jangan sembarangan saja mengumbar sex dimana-mana, pakaiannya harus dibuat sedemikian tidak fleksibelnya sehingga mengurangi niat dan kesempatan. Ingat juga bahwa praktek khitan perempuan dengan memotong klitoris bertujuan juga untuk membabat nafsu sex perempuan. Padahal kalau dipikir-pikir, siapa sih yang lebih besar nafsunya, laki atau perempuan? Kayaknya sama saja deh, kita semua manusia kan?

Lain lagi doktrin tentang benih si ular. Doktrin yang muncul sekitar abad ke-9 di ini lebih nyeleneh lagi otak pornonya. Tega-teganya mereka mengatakan bahwa yang terjadi di taman Eden itu adalah hubungan sex antara Hawa dengan si ular yang mengakibatkan Hawa sampai hamil. Nah, karena anak pertama Hawa adalah si Kain (yang digambarkan temperamental), ditudinglah bahwa Kain adalah anak luar nikah hasil hubungan gelap si Hawa dan si ular. Cocoklah ceritanya kenapa si Kain sampai hati membunuh adik sendiri, begitulah setidaknya yang diyakini para rabbi Kabbala, sebuah sekte Yudaisme.

Semua ini tidak akan terjadi tanpa peranan ular. Tanpa ular, tidak ada peran antagonis. Didalam kisah tanpa akhir itu, posisi Adam dan Hawa sebenarnya dalam keadaan yang sangat bisa diperdebatkan. Itu sebabnya, karena penulis ceritanya tidak memberi petunjuk pasti tentang apa yang dia ingin ceritakan sebenarnya, cerita satu pasal ini jadi terbuka sekali terhadap semua tafsir. Kalau posisi Adam dan Hawa ada di daerah abu-abu, lain lagi peran ular. Jelas dalam adegan itu, dialah biang keladinya. Tokoh antagonis yang jelas sekali peranannya, sampai-sampai orang tidak begitu menggubrisnya lagi. Karena tampak begitu nyata kasat mata terbuka sebagai tokoh jahat, tafsir terhadap ular begitu saja disepakati bersama sebagai, tidak lain dan tidak bukan, si Iblis. Padahal dalam kisah Kitab Kejadian 3 tak sekalipun disinggung-singgung ular sebagai Iblis. Tafsir bahwa ular adalah si Iblis mungkin baru muncul jauh belakangan, bahkan jangan-jangan nanti pada zaman Yesus. Pada kisah aslinya hanya bercerita tentang ular yang bisa bicara. Aneh bin ajaib, believe it or not, semuanya telah tercatat sebagai sejarah suci.
Custom Search