Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

08 April 2009

Nehustan - paradoks si ular tembaga

Alkisah di tengah padang gurun bangsa Israel sudah pada bosan hidup mengembara setelah keluar dari Mesir, lalu mulai ngomel-ngomel ke Musa. Konon sebagai jawaban atas omelan yang keterlaluan itu, Tuhan menyuruh ular-ular tedung (mungkin kobra Mesir, asp atau Naja haje) ke antara mereka. Banyak yang bertumbangan akibat sengatan ular-ular ini. Singkat cerita, tujuan tercapai, orang Israel mau bertobat. Tetapi sampai disini ceritanya belum berakhir, malah menjadi agak rumit dan berakibat jangka panjang. Untuk menyembuhkan korban-korban yang masih hidup, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga untuk ditaruh di sebuah tiang. Siapa yang memandang ke ular di atas tiang itu bakal sembuh. Berhasil. Setelah ular tembaga bertengger di tiang tinggi, orang-orang cukup melihat saja ke arah patung tersebut dan, jreeng, sembuh dah. Ajaib, kan?

Cerita tidak berakhir sampai di situ. Ular tedung merupakan jenis ular yang disembah sebagai dewa di Mesir. Cukup banyak peninggalan sejarah dengan coretan menunjukkan peranan ular tedung yang penting dalam kehidupan di Mesir kuno. Hidup sebagai bangsa budak selama ratusan tahun di Mesir, bangsa Israel kuno cukup akrab dengan si ular tedung. Sekarang diperhadapkan dengan sebuah mujizat nyata, siapa melihat ke ular justru sembuh, salah tafsir tentu saja terjadi. Maksud Tuhan sih untuk menunjukkan kemahakuasaan, yang terjadi malah bangsa Israel mengira si ular tedunglah yang punya kuasa menyembuhkan. Langkah pembuatan ular tembaga malah jadi semacam blunder. Patung ular tembaga tersebut tetap disimpan sebagai patung ular bersejarah buatan Musa. Tetapi sejak itu pula patung ular tembaga tersebut diam-diam dikagumi dan disembah oleh orang Israel, sampai pake membakar korban bakaran segala untuk sang patung yang belakangan dinamai Nehustan.

Nama Nehustan konon merupakan permainan kata nachas (ular) dan nachoset (tembaga). Simbolisme ular tembaga ini mungkin yang jadi inspirasi bangsa Yunani untuk menciptakan ular dewa Aesculapius, sang dewa kesembuhan, yang dewasa ini jadi simbol kedokteran. Yang rada lucu adalah, ada kalangan kedokteran yang memakai caduceus, simbol 2 ular berhadapan pada sebuah tongkat, yang sebenarnya bukan lambang dewa kesembuhan tetapi dewa perdagangan alias Hermes. Mungkin karena dokter-dokter modern sudah pada komersil kali yee.

Patung Nehustan akhirnya dihancurkan oleh Raja Hizkia kurang lebih 500 tahun sesudah Musa, karena dipandang telah menjadi berhala untuk orang Israel. Masuk akal, kan kita sudah biasa mengasosiasikan ular dengan iblis? Tetapi ratusan tahun kemudian, penulis kitab Injil menyatakan bahwa ular tembaga yang ditinggikan di padang gurun merupakan simbol Yesus yang disalib di bukit tengkorak.

07 April 2009

Ular dan setan

Bagaimana ceritanya ular mula-mula diidentikkan dengan setan rada kabur. Cerita kuno dalam kitab Torah (Kejadian 3), tidak membuat rumusan itu. Kesimpulan bahwa ular Kejadian 3 adalah identik dengan iblis muncul kemudian. Mohon dicatat, kitab-kitab yang dikenal sebagai kitab-kitab Musa atawa Pentateukh (lima kitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), tidak cerita-cerita ke kita soal adanya iblis dalam hidup manusia. Seolah-olah penulisnya tidak tahu apa-apa soal tokoh mahajahat ini. Iblis baru nongol di kitab Tawarikh (itupun hanya sekali, dan agak kontroversial konteksnya). Dalam kitab Ayub, iblis jadi tokoh di belakang layar atas berbagai penderitaan Ayub. Memang kalau disimak ada kemiripan dengan upaya menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Cuma disini iblis tampil tidak frontal berhadapan dengan Ayub. Iblis juga tidak sembunyi-sembunyi sama Tuhan dalam upaya mencobai Ayub, malahan pake acara minta ijin segala. Mungkin dari sini asal mulanya orang mulai curiga alias berhipotesis, jangan-jangan si ular itu iblis yang menyamar.

Hipotesis yang masih samar-samar itu akhirnya makin dibikin tegas di waktu-waktu kemudian. Kitab Henokh, yang dipakai di aliran Orthodox misalnya, berkisah bahwa ada malaekat yang tidak setuju waktu Tuhan bilang mau menciptakan manusia. Ada-ada saja. Ceritanya mereka keberatan, kok mau-maunya sih Tuhan bikin makhluk yang bisa jatuh ke dalam dosa. Ujung-ujungnya di antara malaikat ini ada yang memberontak melawan kebijakan Tuhan, terus diusir dan jadi iblis. Di masa Yesus, si setan sudah merajalela mulai dari kitab Matius dan terus disebut-sebut sebagai sumber onar di sepanjang batang tubuh Perjanjian Baru sampai dijanjiin bakal kalah pada akhirnya di Kitab Wahyu. Pokoknya nasibnya bakal tragis deh. Nah, di Perjanjian Baru ini benar-benar nyata topeng si ular dibuka habis. Pokoknya menurut para penulis kitab ini, sudah tidak lain tidak bukan deh, ular kejadian 3 adalah iblis laknat itu. Julukan 'si ular tua' buat si iblis benar-benar menelanjangi habis-habisan topeng kesayangan yang selama ini ditutup rapat.

Identifikasi ular dengan setan memberi dampak buruk buat kehidupan masyarakat ular biasa di muka bumi. Biarpun nyata-nyata iblis hanya memakai ular sebagai penyamaran (artinya keluarga besar ular sendiri mustinya nggak ada sangkut paut sejati dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa), tapi nasi sudah menjadi bubur. Citra negatif terlanjur melekat pada kaum ular. Orang-orang sudah terlanjur memberi cap jelek kepada ular, seberapa banyak pun amal si ular tidak akan mampu menghapus anggapan buruk masyarakat manusia ini. Ada perang dingin antara manusia yang berdarah panas dengan ular yang berdarah dingin. Dimanapun ular ditemukan, manusia cenderung ingin membunuhnya. Biasanya karena ketakutan. Maklum, sangat sedikit orang yang bisa membedakan mana ular berbisa, mana yang tidak. Selain itu, pawang ular sudah jarang praktek di masa sekarang.

Tidak banyak manusia yang tahu bahwa ular sebenarnya tidak suka cari perkara. Kalau tidak diserang, ular biasanya tidak menyerang. Dia benar-benar menjaga sumpah dan janji seorang pendekar, yang hanya akan memakai ilmunya jika terdesak. Begitulah ular, berjiwa satria, tetapi terlanjur disamakan dengan iblis syaitan yang terkutuk. Jadi jika ketemu manusia, apes dah. Entah yang apes manusianya atau ularnya. Semua gara-gara cerita kuno 3000 tahun yang lalu. Betapa besarnya pengaruh mitos dalam kehidupan umat manusia.

05 April 2009

Ular, Adam dan Hawa

Ular memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia. Paling tidak dari sudut sejarah menurut Alkitab Perjanjian Lama. Konon, Adam dan Hawa yang hidup bahagia di taman Eden, pada suatu hari digoda oleh seekor ular untuk makan buah terlarang. Celakanya, Alkitab mencatat, Adam dan Hawa tergoda. Jadilah cerita yang kompleks ngalor ngidul ke sana kemari, sampai-sampai Yesus perlu disalibkan untuk menebus kesalahan menu itu.

Cerita sederhana yang mirip dongeng antah-berantah itu, ditafsirkan ribuan, mungkin jutaan, kali oleh umat manusia dengan berbagai cara. Berbagai sudut pandang tafsir sudah diterapkan ke cerita ini. Peran Adam, peran Hawa, peran ular, semua sudah dikupas habis-habisan. Tafsiran yang timbul akan mewakili zeit geist masing-masing zamannya. Di zaman rasul Paulus yang kesohor itu misalnya, masih hangat-hangatnya peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus yang menghebohkan membuat para murid merasa perlu membuat metafora Yesus sebagai Adam. Cuma kali ini Yesus tidak salah pilih menu. Menu nikmat menghindari jalan salib ditolakNya. Jadilah cerita penebusan di Kalvari yang mengharu-biru selama ribuan tahun.

Lain zaman lain tafsiran. Di suatu masa ada tafsiran paternalistik maskulinist fanatik ekstrim yang keterlaluan, yang menuding ini semua gara-gara si Hawa yang lemah iman. Lagi-lagi terjadi generalisasi keji kejam, lalu muncul gerakan moral menyudutkan kaum perempuan. Jadilah kaum perempuan sedunia, yang sama bentuk dan jenis kelaminnya dengan Hawa istri Adam itu, dituding sebagai pihak yang bersalah. Mereka pamali menjadi pemimpin, apalagi memimpin sembahyangan. Cukup jadi nomor dua saja, persis di bawah laki-laki. Kadang-kadang, keterlaluan, mereka diperlakukan sampai lebih rendah dari binatang, dijadikan pampasan perang, jadi persembahan ke raja-raja hidung belang, kalau kawin tidak usah ditanya kesediaannya langsung dikawini saja. Tudingan bahwa si Hawa (dan otomatis semua kaum perempuan) lemah iman, juga merembet-rembet sampai ke jenis mode pakaian yang harus dikenakan. Perempuan diminta dengan hormat lagi sangat untuk tidak memakai pakaian yang bisa menggoda. Maklum, ada tafsiran ekstrim rada porno yang memandang buah terlarang yang dilarang Tuhan itu sebenarnya adalah hubungan sex. Jadi demi mencegah supaya perempuan jangan sembarangan saja mengumbar sex dimana-mana, pakaiannya harus dibuat sedemikian tidak fleksibelnya sehingga mengurangi niat dan kesempatan. Ingat juga bahwa praktek khitan perempuan dengan memotong klitoris bertujuan juga untuk membabat nafsu sex perempuan. Padahal kalau dipikir-pikir, siapa sih yang lebih besar nafsunya, laki atau perempuan? Kayaknya sama saja deh, kita semua manusia kan?

Lain lagi doktrin tentang benih si ular. Doktrin yang muncul sekitar abad ke-9 di ini lebih nyeleneh lagi otak pornonya. Tega-teganya mereka mengatakan bahwa yang terjadi di taman Eden itu adalah hubungan sex antara Hawa dengan si ular yang mengakibatkan Hawa sampai hamil. Nah, karena anak pertama Hawa adalah si Kain (yang digambarkan temperamental), ditudinglah bahwa Kain adalah anak luar nikah hasil hubungan gelap si Hawa dan si ular. Cocoklah ceritanya kenapa si Kain sampai hati membunuh adik sendiri, begitulah setidaknya yang diyakini para rabbi Kabbala, sebuah sekte Yudaisme.

Semua ini tidak akan terjadi tanpa peranan ular. Tanpa ular, tidak ada peran antagonis. Didalam kisah tanpa akhir itu, posisi Adam dan Hawa sebenarnya dalam keadaan yang sangat bisa diperdebatkan. Itu sebabnya, karena penulis ceritanya tidak memberi petunjuk pasti tentang apa yang dia ingin ceritakan sebenarnya, cerita satu pasal ini jadi terbuka sekali terhadap semua tafsir. Kalau posisi Adam dan Hawa ada di daerah abu-abu, lain lagi peran ular. Jelas dalam adegan itu, dialah biang keladinya. Tokoh antagonis yang jelas sekali peranannya, sampai-sampai orang tidak begitu menggubrisnya lagi. Karena tampak begitu nyata kasat mata terbuka sebagai tokoh jahat, tafsir terhadap ular begitu saja disepakati bersama sebagai, tidak lain dan tidak bukan, si Iblis. Padahal dalam kisah Kitab Kejadian 3 tak sekalipun disinggung-singgung ular sebagai Iblis. Tafsir bahwa ular adalah si Iblis mungkin baru muncul jauh belakangan, bahkan jangan-jangan nanti pada zaman Yesus. Pada kisah aslinya hanya bercerita tentang ular yang bisa bicara. Aneh bin ajaib, believe it or not, semuanya telah tercatat sebagai sejarah suci.
Custom Search